Rabu, 15 Desember 2010

Ketakutan yang Tidak Masuk Akal Lalu Bikin Fobia


Semua orang memiliki ketakutan atau situasi yang ingin dihindari, karena takut adalah bagian dari kehidupan. Namun ada beberapa orang yang memiliki ketakutan yang tidak masuk akal yang akhirnya membuat fobia.

Fobia bukan saja ketakutan yang berlebihan, namun kadang ketakutan yang tidak rasional. Ketakutan akan objek atau situasi yang tidak menyenangkan tersebut menyebabkan serangan panik dan timbul kecemasan yang akut. Fobia ini biasanya dimulai sejak kanak-kanak atau saat remaja.


Fobia yang banyak dialami orang adalah ketinggian, ruang gelap, laba-laba atau lainnya. Tapi ada orang yang mengidap fobia yang tak masuk akal seperti takut uang.

Dilansir dari FoxNews, Minggu (31/10/2010) ada 6 fobia yang sangat aneh dan tidak masuk akal:

1. Takut Drakula (Sanguivoriphobia)
Ini adalah fobia atau takut pada si pemakan darah alias drakula. Meski ceritanya fiksi, pengidap fobia ini akan sesak napas, ketakutan dan menjadi panik saat tiba-tiba memikirkan atau terlintas cerita drakula.

2. Takut Jumat Tanggal 13 (Friggartriskaidekaphobia)
Mitos Jumat tanggal 13 sudah begitu banyak membuat orang takut. Hari itu dianggap sebagai hari sial. Penderita fobia ini akan begitu tertekan dan ketakutan akan mengalami musibah setiap Jumat tanggal 13.

3. Takut Uang (Chrometophobia)
Ketakutan ini dianggap paling aneh karena bisa mengganggu kehidupan orang. Penderita fobia ini melihat uang adalah sumber masalah yang akan menyengsarakan.

4. Takut dengan Orang Muda (Ephebiphobia)
Melihat orang muda bagi penderita fobia ini adalah musibah karena anak muda dianggap tidak bisa dipercaya, suka membunuh, mengancam jiwa dan kedudukan mereka. Orang-orang seperti ini akan menghindari keramaian seperti mall atau bioskop.

5. Takut Tidur (Somniphobia)
Meski lelah penderita fobia ini memilih tidak tidur hingga akhirnya tertidur sendiri tanpa sadar. Tidur menurut penderitanya akan membuat mereka mati alias tidak bangun lagi.

6. Takut Melihat Penis Berdiri (Medorthophobia)
Kebanyakan penderitanya adalah perempuan, sesuatu yang harusnya menyenangkan malah membuat mereka sesak napas sehingga sering gagal melakukan hubungan intim.

Beberapa jenis fobia lain yang tak masuk akal adalah

  • Ablutophobia, takut mandi.
  • Anthrophobia, takut dengan bunga.
  • Bibliophobia, takut membaca buku.
  • Bromidrosiphobia, pusing mencium bau badan.
  • Caligynephobia, tidak percaya diri bila bertemu dengan perempuan, apalagi seorang perempuan yang cantik atau menarik.
  • Catoptrophobia, takut melibat bayangan di cermin.
  • Chaetophobia, ngeri dengan rambut.
  • Chronomentrophobia, takut dengan jam.
  • Cibophobia, takut dengan makanan.
  • Enetophobia, takut melihat peniti.
  • Geliophobia, seram mendengar suara orang tertawa.
  • Graphophobia, takut melihat tulisan.
  • Heliophobia, takut matahari.
  • Lachanophobia, tidak suka makan sayur mayur.
  • Melophobia, takut mendengar musik.
  • Ommetaphobia, ngeri melihat mata.
  • Papyrophobia, takut dengan kertas.
  • Peladophobia, takut melihat orang botak.
  • Pluviophobia, takut hujan.
  • Pogonophobia, geli dengan jenggot.
  • Scolionophobia, takut pergi ke sekolah.
  • Soceraphobia, ngeri dengan mertua.
  • Triskadekaphobia, takut dengan angka tiga belas.
  • Vestiphobia, tidak mau memakai baju.

Peneliti mempelajari bagian tertentu dari otak yang terlibat pada ketakutan fobia ini. Dan ternyata fobia disebabkan oleh kombinasi antara faktor biologi dan kejadian dalam kehidupan, yang dipengaruhi oleh gen seseorang dan gaya hidup.

Orang fobia lebih banyak menghindari sumber ketakutannya tapi sebenarnya diperlukan perawatan untuk melawan takut yang berlebihan. Padahal menghindari sesuatu yang ditakutkan tidak akan menyelesaikan permasalahan.

Rata-rata fobia yang dialami bisa disembuhkan meski diakui tak ada satu pengobatan yang efektif untuk menyembuhkan semua fobia. Dalam beberapa kasus, penyembuhan fobia dilakukan melalui kombinasi perawatan.

Ada beberapa perawatan utama untuk mengatasi fobia, yaitu:

  • Terapi berbicara.
  • Terapi pemaparan diri (Desensitisation).
  • Menggunakan obat-obatan seperti antidepresan, obat penenang dan beta-blocker


sumber : http://www.detikhealth.com

0 komentar:

Poskan Komentar