Tampilkan postingan dengan label militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label militer. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Desember 2010

DARPA: Transformer mobil, helikopter dan pesawat


Mobil bisa terbang seperti Terrafugia memang enak banget yah, terutama untuk digunakan di Jakarta tapi kalau dipikir-pikir, gimana mau terbang kalau jarak antara satu mobil dengan yang lainnya hanya 3 cm??
DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency) sedang mengembangkan sebuah kendaraan militer yang bisa kita bilang kendaraan 3 in 1 karena kendaraan ini adalah sebuah mobil, helikopter dan pesawat sekaligus.



Disebut dengan DARPA Transformer (TX) adalah mobil 4 penumpang ini dilengkapai dengan berbagai persenjataan dan bisa berjalan sejauh 280 mil (450 km) baik di darat maupun udara.

Yang paling utama adalah kemampuannya untuk lepas landas secara vertikal seperti sebuah helikopter sehingga area yang sempit bukan menjadi alasan bagi kendaraan ini untuk mendarat atau tinggal landa.

Transformer yang dilengkapi dengan teknologi cangggih ini juga bisa membuat siapapun bisa mengendarainya dan anda bisa memacu kecepatan sampai 104 km/ jam pada saat berjalan di darat atau 241 km/ jam pada saat di udara.

Prototype mobil ini sedang dibuat dan diharapkan tahun 2015 nanti bisa terwujud apabila tentara Amerika dan Inggris masih berada di Afganistan.


Senin, 06 Desember 2010

Pesawat Temput Siluman Paling Canggih di Dunia


F-22 Raptor adalah pesawat tempur siluman buatan Amerika Serikat. Pesawat ini awalnya direncanakan untuk dijadikan pesawat tempur superioritas udara untuk digunakan menghadapi pesawat tempur Uni Soviet, tetapi pesawat ini juga dilengkapi peralatan untuk serangan darat, peperangan elektronik, dan sinyal intelijen. Pesawat ini melalui masa pengembangan yang panjang, versi prototipnya diberi nama YF-22, tiga tahun sebelum secara resmi dipakai diberi nama F/A-22, dan akhirnya diberi nama F-22A ketika resmi mulai dipakai pada Desember 2005.


Lockheed Martin Aeronautics adalah kontraktor utama yang bertanggungjawab memproduksi sebagian besar badan pesawat, persenjataan, dan perakitan F-22. Kemudian mitranya, Boeing Integrated Defense Systems memproduksi sayap, peralatan avionik, dan pelatihan pilot dan perawatan.

Sejarah
Advanced Tactical Fighter (ATF) merupakan kontrak untuk demonstrasi dan program validasi yang dilakukan Angkatan Udara Amerika Serikat untuk mengembangkan sebuah generasi baru pesawat tempur superioritas udara untuk menghadapi ancaman dari luar Amerika Serikat, termasuk dikembangkannya pesawat kelas Su-27 era Soviet.

Pada tahun 1981, Angkatan Udara Amerika Serikat memetakan syarat-syarat yang harus dipenuhi sebuah pesawat tempur baru yang direncanakan untuk menggantikan F-15 Eagle. ATF direncanakan untuk memadukan teknologi modern seperti logam canggih dan material komposit, sistem kontrol mutakhir, sistem penggerak bertenaga tinggi, dan teknologi pesawat siluman.

Proposal untuk kontrak ini diajukan pada tahun 1986, oleh dua tim kontraktor, yaitu Lockheed-Boeing-General Dynamics dan Northrop-McDonnell Douglas, yang terpilih pada Oktober 1986 untuk melalui fase demonstrasi dan validasi selama 50 bulan, yang akhirnya menghasilkan dua prototip, yaitu YF-22 dan YF-23.

Pesawat ini direncanakan untuk menjadi pesawat Amerika Serikat paling canggih pada awal abad ke-21, karena itu, pesawat ini merupakan pesawat tempur paling mahal, dengan harga US$120 juta per unit, atau US$361 juta per unit bila ditambahkan dengan biaya pengembangan. Pada April 2005, total biaya pengembangan program ini adalah US$70 miliar, menyebabkan jumlah pesawat yang direncanakan akan dibuat turun menjadi 438, lalu 381, dan sekarang 180, dari rencana awal 750 pesawat. Salah satu faktor penyebab pengurangan ini adalah karena F-35 Lightning II akan memiliki teknologi yang sama dengan F-22, tapi dengan harga satuan yang lebih murah.

Produksinya


F-22 versi produksi pertama kali dikirim ke Pangkalan Udara Nellis, Nevada, pada tanggal 14 Januari 2003. Pengetesan dan evaluasi terakhir dilakukan pada 27 Oktober 2004. Pada akhir 2004, sudah ada 51 Raptor yang terkirim, dengan 22 lagi dipesan pada anggaran fiskal 2004. Kehancuran versi produksi pertama kali terjadi pada 20 Desember 2004 pada saat lepas landas, sang pilot selamat setelah eject beberapa saat sebelum jatuh. Investigasi kejatuhan ini menyimpulkan bahwa interupsi tenaga saat mematikan mesin sebelum lepas landas menyebabkan kerusakan pada sistem kontrol.

Persenjataan F-22


F-22 dirancang untuk membawa peluru kendali udara ke udara yang tersimpan secara internal di dalam badan pesawat agar tidak mengganggu kemampuan silumannya. Peluncuran rudal ini didahului oleh membukanya katup persenjataan lalu rudal didorong kebawah oleh sistem hidrolik. Pesawat ini juga bisa membawa bom, misalnya Joint Direct Attack Munition (JDAM) dan Small-Diameter Bomb (SDB) yang lebih baru. Selain penyimpanan internal, pesawat ini juga dapat membawa persenjataan pada empat titik eksternal, tetapi apabila ini dipakai akan sangat mengurangi kemampuan siluman, kecepatan, dan kelincahannya.

Untuk senjata cadangan, F-22 membawa meriam otomatis M61A2 Vulcan 20 mm yang tersimpan di bagian kanan pesawat, meriam ini membawa 480 butir peluru, dan akan habis bila ditembakkan secara terus-menerus selama sekitar lima detik. Meskipun begitu, F-22 dapat menggunakan meriam ini ketika bertarung tanpa terdeteksi, yang akan dibutuhkan ketika rudal sudah habis.

Kemampuan Siluman dari F-22


Pesawat tempur modern Barat masa kini sudah memakai fitur-fitur yang membuat mereka lebih sulit dideteksi di radar dari pesawat sebelumnya, seperti pemakaian material penyerap radar. Pada F-22, selain pemakaian material penyerap radar, bentuk dan rupa F-22 juga dirancang khusus, dan detil lain seperti cantelan pada pesawat dan helm pilot juga sudah dibuat agar lebih tersembunyi.F-22 juga dirancang untuk mengeluarkan emisi infra-merah yang lebih sulit untuk dilacak oleh peluru kendali "pencari panas".

Namun, F-22 tidak tergantung pada material penyerap radar seperti F-117 Nighthawk. Penggunaan material ini sempat memunculkan masalah karena tidak tahan cuaca buruk. Dan tidak seperti pesawat pengebom siluman B-2 Spirit yang membutuhkan hangar khusus, F-22 dapat diberikan perawatan pada hangar biasa. Selain itu, F-22 juga memiliki sistem yang bernama "Signature Assessment System", yang akan menandakan kapan jejak radar pesawat sudah tinggi, sampai akhirnya membutuhkan pembetulan dan perawatan.

Pemakaian afterburner juga membuat emisi pesawat lebih mudah ditangkap oleh radar, ini diperkirakan adalah alasan mengapa pesawat F-22 difokuskan untuk bisa memiliki kemampuan supercruise.

source: http://seputar-us.blogspot.com/2010/11/pesawat-tempur-paling-berbahaya-di.html

Sabtu, 27 November 2010

Membedah Tuntas Baju Anti Peluru


Semenjak abad pertengahan, prinsip awal baju/rompi anti peluru telah dikembangkan. Dimulai dari ksatria (knight) dengan Baju zirah besinya, yang dapat menahan tusukan pedang atau laju bidikan anak panah.



Namun, sesuai kemajuan zaman dan dengan teknologi yang selalu berkembang, senjata yang dipergunakan pun berubah, yaitu senjata api. Otomatis, alat pelindungnya turut berubah pula, yaitu baju anti peluru.


Baju Anti Peluru (Bullet Proof Vest) atau Baju Balistik (Ballistic Vest)

Sesuai dengan kegunaannya sebagai penahan/pelindung dari peluru yang melesat ke tubuh pemakainya, baju "anti peluru" pun dibedakan menjadi dua, yaitu : Soft Body Armor dan Hard Body Armor.

Soft Body Armor

Dalam tugas keseharian atau dalam tugas penyamaran (undercover) polisi/detektif lebih mengutamakan baju anti peluru yang ringan. Soft body armor umumnya terbuat dari serat aramid (aramid fibres).

Aramid adalah kependekan dari kata aromatic polyamide. Aramid memiliki struktur yang kuat, alot (tough), memiliki sifat peredam yang bagus (vibration damping), tahan terhadap asam (acid),dan basa (leach), serta dapat menahan panas hingga 370°C, sehingga tidak mudah terbakar dan mencederai penggunanya.

Kevlar

Karena sifatnya yang demikian, aramid juga dipergunakan pada pesawat terbang, tank, dan roket antariksa. Produk yang dipasarkan dikenal dengan nama Kevlar. Kevlar memiliki berat yang ringan, tapi 5 kali lebih kuat dibandingkan besi.

Hard Body Armor

Dengan menambahi soft body armor dalam lapisan tertentu, dapat menghasilkan hard body armor. Umumnya lapisannya terbuat dari keramik (Al2O3 " Alumina"), lempengan logam, atau komposit.

Bentuknya yang tebal dan berat, menjadikannya tidak begitu nyaman (comfort), sehingga jarang dikenakan dalam tugas keseharian. Dalam tugas khusus yang beresiko tinggi saja digunakannya, seperti operasi militer atau operasi tim SWAT.

Prinsip Kerja Baju Anti Peluru

Prinsip kerjanya adalah dengan mengurangi sebanyak mungkin lontaran energi kinetik peluru, dengan cara menggunakan lapisan-lapisan kevlar untuk menyerap energi laju tersebut, dan memecahnya ke penampang baju yang luas, sehingga energi tersebut tidak cukup lagi untuk membuat peluru dapat menembus baju.

Dalam menyerap laju energi peluru, baju (kevlar) mengalami deformasi yang menekan ke arah dalam (shock wave), tekanan kedalam ini akan diteruskan sehingga mengenai tubuh pengguna.

Batas maksimal penekanan kedalam tidak boleh lebih dari 4,4 cm (44 mm). Jika batasan tersebut dilewati, maka pengguna baju akan mengalami luka dalam (internal organs injuries), yang tentunya akan membahayakan keselamatan jiwa.

Analoginya seperti laju bola yang dapat ditahan oleh jaring gawang. Jaring gawang terdiri dari rangkaian tali yang saling terhubung satu sama lain. Apabila bola tertangkap oleh jaring gawang, maka energi laju (kinetik) bola tersebut akan diserap oleh jaring gawang, yang menyebabkan tali disekitarnya bertambah panjang (extend), dan kemudian tekanan (tarikan) tali akan dialirkan ke tiang gawang.


Gambar diatas menunjukan bahwa anggapan pemakai baju anti peluru dapat terhindar sepenuhnya dari cidera yang dihasilkan oleh tembakan, adalah salah. Perlu ditekankan, bahwa fungsi utama baju anti peluru hanyalah untuk menahan peluru, sehingga, peluru tidak sampai masuk kedalam tubuh pemakai baju, yang dapat menyebabkan kematian.

Tidak jarang akibat "tekanan" yang ditimbulkan peluru tadi, pemakai baju akan menderita luka memar (blunt force trauma), hingga patah tulang.

Level Baju Balistik

Standar baju balistik yang paling banyak digunakan adalah standar NIJ (National Institute of Justice) Amerika. Berdasarkan standar ini, baju balistik dibagi menjadi beberapa tingkatan (level), yaitu level I, II-A, II, III-A, III, dan IV. Level I adalah tingkatan yang terendah, baju hanya dapat menahan peluru yang berkaliber (berdiameter) kecil.


Material Lain

Vectran

Vectran adalah polymer kristal cair (liquid crystal polymer). Seratnya memiliki kekuatan, hingga dua kali lipat dibandingkan dengan kevlar.

Benang Laba-laba (Spider Silk)

Benang laba-laba terdiri dari ikatan molekul protein yang panjang. Benang ini tidak hanya memiliki kemampuan dapat menahan beban yang ekstrem, tapi juga sekaligus memiliki sifat elastis yang sangat tinggi, hingga kalau ditarik dapat memanjang sebanyak 40%.

Sifat elastis ini berasal dari butiran-butiran cairan kecil yang terdapat pada benang, yang kalau dilihat bentuknya, seperti kalung mutiara atau tasbih. Setiap butiran ini, di dalamnya memiliki reserve benang, bila ada mangsa yang terjatuh kedalam jaring laba-laba, benang dalam butiran ini akan otomatis tertarik keluar, sehingga jaring tidak akan putus.

CNT (Carbon Nanotubes)

CNT atau Carbon Nanotubes ditemukan tahun 1991 oleh Professor Sumio Iijima dari Jepang. CNT merupakan susunan unsur karbon (C), yang berukuran sangat kecil "nano" (0,000 000 001) dan berbentuk seperti pipa (tube), yang dindingnya tersusun seperti rumah lebah.

Read more: http://siradel.blogspot.com/2010/08/baju-anti-peluru.html